Bagian ke 2

Sekelumit Kisah di PULAU WEH

Menjelang malam (13/03), rumah Kak Ita dekat dengan pusat perbelanjaan di tengah kota Sabang berjarak kurleb 30 km sebelum Tugu KM Nol… kalo mo cari makanan dan jajanan tradisional, termasuk cinderamata tinggal jalan kaki aja… Daerah yang paling ramai di kota Sabang, karena memang di sini merupakan pusat perekonomian penduduk Pulau Weh…

Kak Ita senantiasa menemani kami kemanapun dan bermaksud apapun kami mau tanpa bermaksud pamrih… Dia sangat melarang kami yang sempat ingin mencari penginapan untuk tempat beristirahat, walaupun tidak jauh dari rumahnya ada losmen yang cukup murah. “Buang-buang duit! mendingan buat beli bensin aja uangnya”, tegurnya mengingatkan.

Sementara Bang Kida (suami Kak Ita), juga selalu melayani kebutuhan kami, saat kami istirahat dia memeriksa satu persatu kondisi semua kendaraan kami, mengencangkan baut-baut yang kendor, dan mengingatkan bila ada sparepart yang harus diganti. Dari Bang Kida kami banyak mendengar cerita tentang tugu KM Nol, termasuk penyesalannya terhadap perilaku pengunjung tugu yang mulai mencemari daerah sekitarnya dengan berbagai macam atribut serta coretan di tembok dan batu-batu. Fenomena ini sudah sangat menghawatirkan Dinas Pariwisata setempat dan masyarakat Sabang pada umumnya. “Tugu Kilometer Nol terletak di kawasan Hutan Lindung pulau Weh Sabang, sudah seharusnya kita ikut menjaga dan melestarikannya”, tutur Bang Kida. “Kalo sampai ada yang ketahuan corat coret di sana, gak ada kompromi lagi langsung saya suruh kembali lagi dan hapus semua coretannya!” tegasnya mengancam.

Pukul 22.00, masih ditemani Kak Ita, kami menikmati hidangan makan malam di sebuah kedai kota ini. Malam itu suhu udara sangat panas, mencapai 35º C membuat kami merasa kegerahan dan memesan minuman dingin. Kini di meja kami terhidang beberapa gelas teh manis dingin (kalo di depok istilahnya es teh manis), 2 gelas es jeruk buat bro Asep D# 089 dan bro Deden D#004 , serta 2 ceret besar berisi air putih, lalu ada sebuah baskom besar ditaruh sebagai alas salah satu ceret tadi. Piring-piring bekas makanan kami sudah dibereskan. Suhu udara yang panas membuat kami selalu merasa dahaga, bila air di gelas mulai berkurang karena diminum, kami menambahkannya lagi dari ceret yang sudah tersedia…terus menerus, mengobati dahaga!

Pelayan mendatangi meja kami dan berkata sopan, “Maaf pak, kalau mau tambah air minumnya pakai yang ini saja”, menunjuk ceret yang tidak ada baskomnya. Kontan membuat kami saling pandang tidak mengerti..bro Deden D#004 yang sudah mulai menyadari situasi langsung protes, “Kenapa gak bilang dari tadi? Trus, gimana dong?” lanjutnya penasaran. “Kan sudah ada tulisannya Pak”, pelayan menjawab ringan sambil memutar posisi ceret beralas baskom, tertulis dengan jelas di badan ceret bagian atas “UNTUK CUCI TANGAN”.

Semua pengunjung kedai dan para pelayan menahan senyum geli, di sudut meja Kak Ita tertawa terpingkal-pingkal. “Tenang aja, air yang kalian minum biarpun mentah tapi bersih kok”, hiburnya. Sementara ceret tanpa baskom yang berisi air minum, masih penuh dan tidak tersentuh sama sekali alias masih perawan!

* * *

Sabtu (14/04), Pukul 06.30, Kak Ita, bro Asep D#089, bro Poncho D#132, bro Deden D#004, bro Sadrawi D#039, bro Arya D#090, bro Andi D#151, bro Aris D#110, dan bro Nanda HTCM ( Honda Tiger Club Medan ) sudah bersiap-siap berangkat ke Ujong Batu tempat Tugu KM Nol berdiri. Tugas kali ini adalah mengadakan ritual perayaan HUT ke-4 Deklarasi Depok Tiger Club dan mengabadikan perayaan tersebut dengan pemasangan prasasti di sekitar tugu KM Nol. Sementara “duo haji” (H. Yudi D#116 dan H. Reza D#074, red) tanpa mengurangi rasa hormat kepada organisasi, meminta menunggu di rumah Kak Ita bersama Bang Kida. Maklum, faktor usia mengharuskan mereka lebih banyak beristirahat.

Hari ini cerah sekali, hijau daun, langit biru dan awan tipis putih seolah berkombinasi menjadi warna yang sangat lembut bagi kedamaian hati. Berbaur menjadi satu, kicauan burung, desiran angin pantai, dan deburan ombak Samudra Hindia ikut mendukung suasana khidmat sekitar prasasti stainless stell bertuliskan “WE ARE HERE to CELEBRATE THE 4th ANNIVERSARY DEPOK TIGER CLUB DECLARATION of SAFETY RIDING AND DRUGS & ALCOHOL FREE CAMPAIGN” di sebelah tugu KM Nol.

Dipimpin bro Asep D#089 kami berdoa bersama-sama memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Tuhan YME atas anugerah dan karunia yang telah dilimpahkanNya kepada kami, kepada keluarga besar Depok Tiger Club yang saat ini merayakan HUT ke-4 Deklarasinya, dan kepada teman serta kerabat kami. Tidak lupa kami juga memohon petunjuk dan ampunanNya, supaya diberikan keselamatan selama di perjalanan hingga selamat sampai di rumah masing-masing. Aamiin.

Kapal Roro yang akan mengantar kami kembali ke Banda Aceh sudah bersandar. Kini suasana haru menyelimuti Pelabuhan Balohan Sabang. Berat rasanya bagi kami harus meninggalkan pulau kecil nan indah dalam waktu secepat ini. Tanpa bisa membendung lagi air matanya, Kak Ita memeluk kami satu persatu dengan erat. Begitu eratnya, menandakan ia tidak ingin berpisah dengan kami. Walaupun cuma 1 hari kami di Sabang, tapi kami merasa sudah sangat dekat dengan Kak Ita dan Bang Kida. Berharap suatu saat ada kesempatan bagi kami untuk menikmati kembali sengatan teriknya matahari di P. Weh yang mempesona ini…..

BANDA ACEH

Koetaradja Honda Tiger Club ( KHTC ) menagih janji kami untuk bermalam di Kota Serambi Mekkah ini. Start dari pelabuhan Ulee Lheue, kami diajak rolling tiger di kota Banda Aceh. Menikmati pemandangan kota yang bersih dan beriman, berfoto-foto di kapal PLTD Apung I ( kapal tanker milik PLN yang hanyut terbawa ombak tsunami akhir 2004 silam sampai ke tengah kota Banda Aceh ), dan menunaikan ibadah shalat Ashar di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

Malamnya, Ketua Umum KHTC, bro Dede mengundang kami untuk hadir di kopdar resmi mereka. Kami pun merasa tersanjung dan dengan senang hati hadir mengenakan seragam resmi Depok Tiger Club. Di sini bro Hery dari Sigli juga hadir khusus untuk menemui kami ( jarak Sigli – Banda Aceh kurleb sama dengan Depok – Cianjur ).

Setelah diajak berkeliling sejenak di kota Banda Aceh, kami dipersilahkan beristirahat di rumah salah satu anggota KHTC, bro Dedi. Rumah yang cukup besar dan mewah untuk kami mendengkur pulas.

Minggu (15/03), pukul 11.00 kami berangkat meninggalkan Banda Aceh ditemani “Tiger Picek dari Sigli”. Walaupun tidak diucapkan, namun melihat raut wajahnya kami dapat merasakan keinginan yang sangat kuat dari bro Hery supaya kami bisa bermalam di kota Sigli. Mempertimbangkan waktu yang sudah tidak memungkinkan, dengan sangat menyesal kami tidak bisa memenuhi harapan pria jangkung berhati baik ini.

Sepanjang perjalanan di Tanah Rencong ini, kami banyak menemui hewan-hewan ternak atau peliharaan penduduk sekitar yang berkeliaran di jalan raya. Konvoi kami pun berjalan perlahan. Sampai suatu ketika di daerah Bireun bro Asep D#089 dikejutkan oleh seekor sapi yang menyeberang tanpa arah yang jelas, kontan membuat pria berperawakan tambun yang saat itu berada di barisan kedua, dan yang lainnya melakukan pengereman darurat! Ciiiiiitttt…..! Jarak aman menghindarkan kami dari tabrakan beruntun. “Et dah, itu sampi…nyebrang kagak bilang-bilang”, keluh bro Asep D#089. “Dasar, sapi nggak punya otak!” maki bro Deden D#004 kesal. ( Mungkin kalo si sapi tadi bisa bicara dia akan menjawab: “Kan otak gue lagi lo pake bro…” )

Sore menjelang maghrib kami tiba di Lhokseumawe dan berkumpul lagi bersama pengurus dan anggota Lhokseumawe Tiger Bikers Club ( LTBC ). Setelah memberikan jamuan makan malam, bro Yopi cs mengajak kami berkeliling kota Lhokseumawe dan mengantar kami keluar dari kota ini untuk melanjutkan perjalanan pulang. Kami sempat bermalam di perbatasan Aceh – Sumut daerah Tamiang untuk istirahat dan menunggu pagi.

MEDAN

Senin (16/03) pukul 10.00 kami tiba di kota Medan. Langsung ke rumah bro Rendy D#158 untuk mandi dan beristirahat. Sore kami ke bengkel mengganti oli mesin dan melakukan pre-ride check kendaraan kami. 15 buah duren Medan yang akan kami nikmati setelah makan malam sudah menunggu kami di rumah Bang Pieter, anggota Honda Tiger Club Lampung ( HTCL ) yang sedang berdinas di Medan.

Hujan semalaman membuat kami tertidur terlalu pulas sehingga kami agak kesiangan bangun esoknya, Selasa (17/03), dari sini kami harus berpisah dengan anggota rombongan kami sebelumnya. Bro Nanda HTCM yang sudah mencapai finish terlebih dahulu, bro Deden D#004 yang mempunyai kesibukan dan pekerjaan di kota ini, dan bro Aris D#110 yang dengan sangat terpaksa harus melanjutkan perjalanan menuju Depok menggunakan pesawat karena urusan pekerjaan yang mendadak. Kini rombongan kami berjumlah 7 orang yang masih tersisa. Bro Hendra, Ketua HTCM memanfaatkan kesempatan di sela-sela jam kerjanya menemui dan melepas kepergian kami pukul 11.00. Bro Deden D#004 dan bro Rendy D#158 jg melakukan hal yang sama. Sempat terlihat titikan air dari balik kacamata bro Rendy D#158 ketika kami akan meninggalkan ibukota Sumatra Utara ini.

* * *

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba sebuah sepeda motor New Tiger Revolution warna hitam dengan cepat menyalib rombongan kami dari arah belakang, membuka jalan raya yang cukup macet untuk kami lewati. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi kami mengenali ciri motor dan pengendaranya. Bro Kiki, Ketua Honda Tiger Club Serdang Bedagai ( HTCS ). Saat ini kami memang sedang melintasi kota Sergai. Tampaknya bro Kiki sebelumnya sudah mendapat info bahwa kami akan melewati daerah ini. Pria asli Sergai ini mengantar kami sampai ke perbatasan Tebing Tinggi, Sumut. Setelah berhenti sejenak di perbatasan untuk bersalam-salaman dan saling rangkul, kami lanjutkan perjalanan dengan tujuan Pekan Baru, Riau. Berbeda dengan keberangkatan kami tempo hari, jalur yang akan kami tempuh kali ini adalah Lintas Timur Sumatera, melewati Pekanbaru – Jambi – Palembang – dan Lampung.

Malam, di Rantau Parapat kami memutuskan istirahat di sebuah stasiun pompa bensin menunggu hingga pagi. Kami juga mendapat kabar dari Jakarta bahwa bro Aris D#110 sudah tiba di Bandara Sukarno-Hatta.

PEKANBARU

Rabu (18/03), pukul 13.30, 6 motor dari Tiger Owner Club Pekanbaru ( TOCP ) sudah menunggu kami di Minas sebelum masuk ke ibukota Riau. Bro Tommy-TOCP lah yang selalu memantau selama kami di perjalanan sejak meninggalkan Sumatera Utara.

Rombongan langsung diarahkan ke sebuah restoran Padang di kota Pekanbaru untuk menunaikan kewajiban makan siang kami. Di kota ini kami diwajibkan pula oleh kawan-kawan TOCP untuk menginap 1 malam. Jelas kami tidak dapat menolak kebaikan ini. Tapi dengan berat hati kami juga harus berpisah dengan salah satu anggota rombongan kami, bro Sadrawi D#039 yang harus langsung melanjutkan perjalanan ke Muara Tebo Jambi karena keluarga dan pekerjaan sudah tidak sabar menunggunya di sana. Muara Tebo masih harus ditempuh kurleb 6 jam lagi dari Pekanbaru ke arah Lintas Tengah Sumatera, beda arah dengan jalur yang akan kami lewati. Walaupun suhu udara di kota ini sangat panas, tapi kami merasa sangat nyaman bersama brade-brade di sini (di Detic, kami gunakan istilah ”brade” untuk ungkapan hubungan yang lebih erat dari sekedar kawan, hehehe…). Kami banyak berdiskusi dan bercanda-tawa bersama mereka, hingga bertukar cinderamata. Kami juga tetap berkomunikasi dengan bro Sadrawi D#039 selama perjalanan solo touringnya, pukul 22.30 dia sudah sampai di rumahnya dengan selamat, alhamdulilah.. kami lega mendengarnya.

Kamis (19/03), diantar oleh brade-brade TOCP sampai perbatasan kota, kami mulai meninggalkan kota minyak ini.

Melintasi daerah Pangkalan Kerinci hingga Pematang Reba kami melewati jalan menurun dan menanjak seperti gelombang raksasa. Beraspal rata dengan perkebunan kelapa sawit menghampar luas di sekitarnya, membuat kami dapat menikmati perjalanan dan berusaha mengurangi penyakit “homesick” yang sudah mulai menyerang hati kami.

Pukul 15.00 wib memasuki daerah Rengat Sumut, kami sudah ditunggu oleh 2 orang kawan kami dari Reger-C ( Rengat Tiger Club ). Ketua Umumnya, bro Anto minta kami untuk mampir sekedar menyantap makan siang dan minum es di sebuah restoran. Tampaknya mereka sudah memesan meja untuk tempat kami makan.

Setelah hampir 2,5 jam kami bersosialisasi, mereka mengijinkan kami untuk melanjutkan perjalanan.

Kondisi jalan yang kami lalui kali ini sangat berat, jalanan antara Pematang Reba hingga Seberida sepanjang 51 km rusak parah dan sedang dalam perbaikan, sisanya sejauh 20 km masih rusak dan berlubang-lubang, memerlukan tenaga dan konsentrasi ekstra untuk melewatinya. Baru setelah memasuki perbatasan Riau – Jambi aspal jalan raya sudah rata sampai ke Merlung – Kuala Tungkal – dan Jambi. 

JAMBI

Pukul 00.30 kami tiba di kota Jambi dijemput oleh kawan-kawan dari Jambi Ethnic Tiger ( JET ). Bro Micky-JET menerima kami di warung miliknya, tempat ini digunakan sebagai sarana aktifitas dan kegiatan anggota JET, serta tempat berkumpulnya biker di kota Jambi (istilah kerennya “Warung Bikers” kali yak). Selain menyediakan aneka makanan dan minuman, di sini juga menjual macam-macam aksesoris dan perlengkapan berkendara. Pantas lah jika para biker merasa betah nongkrong dan berdiskusi di sini…

Rasa letih karena melewati jalanan rusak tadi siang membuat kami merasa harus beristirahat di kota Jambi. Karena jika dipaksakan melanjutkan perjalanan, akan sangat mempengaruhi tenaga dan konsentrasi kami dalam berkendara, keselamatan harus tetap kami utamakan.

Esoknya (20/03), pukul 08.00, kami lanjutkan perjalanan menuju kota Palembang, Sumatera Selatan. Jalur yang kami lalui mulai dari Tempino – Bayung Lincir – Sungai Lilin – dan Betung. Setelah berkendara kurang-lebih selama 4 jam, berniat menunaikan ibadah Shalat Jum’at, kami berhenti di sebuah masjid sederhana di daerah Sungai lilin.

PALEMBANG

Pukul. 16.30 kami tiba di kota Palembang, dijemput oleh “Wong Kito” anggota dari HOT KOPI ( Honda Tiger Kota Palembang Indonesia ). Melintasi jalan raya ibukota Sumatera Selatan yang sangat ramai, kami mulai menikmati suasana lalulintas yang tersendat, mungkin karena bersamaan dengan jam pulang kerja, mengingatkan kami kembali kepada situasi lalulintas kota asal kami, macet!.. Tadinya kami berniat numpang lewat di kota ini, bro Irdi, Ketua HOT KOPI, menyarankan kami untuk mandi dan beristirahat sebentar. Kelezatan pempek 27 ilir dan keindahan Jembatan Ampera di malam hari membuat kami terlena. Pukul 21.30 kami baru melanjutkan perjalanan keluar dari kota Pempek ini dibawah siraman gerimis. Memasuki daerah Ogan Komering Ilir, hujan yang tadinya rintik-rintik berubah menjadi lebat, petir menyambar bersahut-sahutan, disertai angin kencang mengerikan, lebih tepat dikatakan badai! Mengalami situasi ini, kami berhenti di sebuah rumah makan perhentian para sopir bus dan truk. Kami berencana akan tetap melanjutkan perjalan jika hujan sudah mulai reda.

Pukul 02.00 hujan angin disertai petir belum juga reda, kantukpun mulai terasa, satu persatu dari kami akhirnya tertidur pulazz..zzz..zzz…

Sabtu (21/03) pagi, kami lanjutkan perjalanan ke arah Lampung, melintasi Kayu Agung – Tugu Mulyo – Pematang Panggang dan mampir sejenak ke sebuah kedai di Mesuji, Tulang Bawang untuk memberi makan gembel-gembel yang mulai rusuh di dalam perut kami. Pukul 13.00 kami nyalakan lagi mesin 200cc kami dan mengarahkannya ke Bandar Agung – Bandar Jaya – dan Tangineneng.

LAMPUNG

Rasa rindu yang sudah sangat dalam pada keluarga di rumah sempat membuat H. Yudi D#116 melupakan kekompakan tim. Melintasi kota Bandar Lampung, hujan deras mengguyur kami, bro Poncho D#132 yang selama perjalanan pulang berada di posisi paling depan, mengarahkan rombongan untuk menepi dan memberi kesempatan anggota rombongan mengenakan jas hujan. Sementara, H. Yudi D#116 yang saat itu berada di posisi paling belakang terus melaju dengan kendaraannya menembus hujan meninggalkan kami. Mengira beliau juga akan berhenti dan menunggu kami di stasiun pompa bensin terdekat sambil mengisi bahan bakarnya, kami membiarkan situasi ini. Pertimbangan ini membuat kami sedikit tenang dan memutuskan untuk menunggu sampai hujan agak mereda.

Bergerak perlahan kami menyusuri sepanjang jalan sambil mencari-cari H. Yudi D#116. Kami masuk Pom bensin pertama yang kami temui berharap menemukan pria berusia 59 tahun dan Tiger merah’04 nya sekaligus mengisi penuh tangki bahan bakar motor kami. Mulai khawatir setelah tidak menemukan orang yang kami cari, kami segera menelponnya. Berulang-ulang panggilan kami tidak diangkat. Namun tidak lama kemudian ponsel bro Asep D#089 berdering. H. Yudi D#116 mengabarkan bahwa ia sudah berada di dalam kapal yang akan membawaya berlayar dari Bakauheni menuju ke Merak Banten. Merasa cemas sekaligus lega bro asep D#089 meminta lelaki berjulukan “Stoner” ini untuk menunggu kami di pelabuhan Merak nanti.

Penyakit homesick baru sedikit terobati ketika di pelabuhan Merak lelaki bernama lengkap H. Edy Wahyudi D#116 ini bertemu dengan brade-brade dari DeTiC ( Depok Tiger Club ) yang berniat menjemput kedatangan kami. Suasana haru mulai tampak di sini. Tidak terasa air mata H. Yudi D#116 mulai mengalir deras dari sela-sela mata yang sudah mulai tampak tua dan lelah. “Gue kira gak akan bisa bertemu kalian lagi”, desahnya sambil memeluk brade Detic satu persatu. 

Sementara, kami yang kini tinggal 5 orang baru saja naik ke kapal fery yang akan membawa kami ke pelabuhan Merak, Banten. Sambil merebahkan tubuh menghadap langit di yang cerah, kami menikmati perjalanan ditemani bintang-bintang yang bertebar di angkasa berkelap-kelip indah. Terlena oleh hembusan angin laut Selat Sunda, kami pun tertidur pulas.

PELABUHAN MERAK

Kapal yang membawa kami mulai merapat di dermaga pelabuhan Merak saat sekelompok orang melambaikan tangan dan berteriak-teriak memanggil nama kami di sisi dermaga. Kami mulai mengenal suara-suara itu…teman-teman, saudara-saudara, brade-brade kami dari depok yang rupanya telah dengan ikhlas meluangkan waktu dan tenaganya untuk menjemput kami di sini. Haru bercampur tawa mewarnai perjumpaan ini, suasana akrab tampak sangat terasa.

Rupanya kejutan tidak hanya sampai di sini, brade-brade kami yang lain juga telah menunggu kedatangan kami di 2 titik penjemputan lainnya, antara lain, di Serpong dan Sawangan, melibatkan setidaknya 30 anggota Depok Tiger Club yang akan mengantarkan kami sampai di rumah dan bertemu dengan keluarga kami. Sungguh sebuah perlakuan yang tidak pernah kami sangka-sangka. Terima kasih Tuhan, Engkau telah menganugerahi kami harta yang tak ternilai harganya…persahabatan, persaudaraan, dan teman-teman yang begitu mencintai dan menyayangi kami. Kami benar-benar merasa sangat beruntung dengan karunia ini.

5.800 kilometer sudah kami lewati dalam waktu 15 hari. Banyak sekali hikmah yang dapat kami ambil dari petualangan ini, termasuk mulai populernya istilah “Nol” di kalangan kami, Nol Kilometer, Nol drugs, Nol alcohol, Nol conflict, dan Nol accident.

Seorang kawan pernah berpesan kepada kami, “Tekad yang kalian miliki sudah lebih dari sekedar jarak, keikhlasan kalian sudah melebihi ego masing-masing. Jadilah tim yang solid dan satu hati. Kawal baik-baik dan bawalah pulang kebanggaan dan cerita bahagia ini sampai ke rumah dengan selamat”.

Kata-kata ini benar-benar sangat bermanfaat yang selalu menjadi pemicu semangat kami untuk menyelesaikan petualangan ini sebaik-baiknya. Semoga juga akan menjadi pelajaran yang berharga bagi saudara-saudara kami dimanapun berada. Aamiin…

…From Depok to Zero…

DEPOK

D#132

November 2018
S M T W T F S
1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30
Go to top