DEPOK

Dedi dores,

Dengan diiringi doa dan restu dari keluarga dan teman-teman, Jum’at 6 Maret 2009 pukul 23.30 wib

Asep D#089

Aris D#110

Poncho D#132

H. Yudi D#116

H. Reza D#074

Arya D#090

Andi D#151

yang tergabung dalam Tim Andalas Overland Depok Tiger Club memulai petualangan untuk menyusuri daratan Sumatera sekaligus ingin mengkampanyekan Safety Riding, No drugs & Alcohol, dan Budaya Tertib Berlalu Lintas di kalangan pengendara sepeda motor di wilayah Sumatera…

Sekretariat Depok Tiger Club saat itu tampak ramai sekali, tidak kurang dari 25 motor ikut melakukan pengawalan untuk mengantar dan melepas keberangkatan Tim sampai ke perbatasan Depok - Banten…

TANGGERANG

Perjalanan baru saja di mulai, tantangan sudah mulai menguji kekompakan tim ketika melewati jalan raya yang gelap sekitar Balaraja, Tangerang… lubang besar berkedalaman sekitar 15 cm yang tidak terlihat membuat kami harus berhenti sejenak untuk memeriksa kondisi kendaraan.. lubang yang cukup dalam untuk membuat boks perbekalan motor bro Poncho D#132 terbang, bracketnya bengkok dan membuat shock pengendaranya!

SERANG

Memasuki kota Serang ujian kembali datang, kendaraan bro Aris D#110 mengalami trouble sehingga harus di perbaiki dan turun mesin di bengkel setempat, kebetulan salah satu mekanik di bengkel tersebut adalah kawan kami dari BHTC ( Banten Honda Tiger Club ) hal ini sangat menyita konsentrasi dan tenaga khususnya waktu…

Sabtu (07/03) sore perjalanan baru bisa kami mulai lagi hingga penyeberangan ke Bakauheni Lampung… Rasa lelah seharian di kota Serang membuat kami memutuskan untuk beristirahat dan bermalam di kota Bandar Lampung...

LAMPUNG

Minggu (08/03) pukul 06.00 wib, setelah sarapan nasi uduk di jln. Antasari Bandar Lampung kami kembali melanjutkan perjalanan menuju checkpoint I yaitu Muara Tebo, Jambi untuk menjemput salah satu anggota Detic yang juga ingin bergabung bersama tim Andalas Overland Bro Sadrawi D#039 …

PALEMBANG

Melewati kota Palembang, sore kami diguyur hujan deras, kami menyempatkan diri masuk ke stasiun pompa bensin untuk mengenakan jas hujan dan mengisi bahan bakar. Sebenarnya di dalam tangki bahan bakar kami masih cukup untuk melakukan perjalanan sampai 200 km, tapi kami putuskan untuk mengisinya kembali hingga penuh untuk mengantisipasi daerah yang akan kami lewati kabarnya rawan dan berbahaya…

Masih di guyur hujan deras yang tiada hentinya hingga malam daerah yang kami lewati yaitu Betung - Sungai Lilin - Bayung Lincir - hingga Tempino adalah daerah yang cukup Liar… kami tidak bisa memastikan apa yang ada di kanan-kiri jalan! Setiap kali melihat pompa bensin kami selalu berhenti sejenak dan mengisi kembali bahan bakar kami…

Tidak ada penerangan sama sekali di sepanjang jalan kecuali sorot lampu dari sepeda motor kami yang sebenarnya tidak banyak membantu karena terganggu air hujan lebat…sejauh kira-kira 130 km atau selama + 3 jam jalan berliku-liku kami tidak menemui orang atau kendaraan lain yang melintas apalagi pompa bensin, kalaupun ada perkampungan, semua pintu rumah penduduknya sudah tertutup dan lampunya mati, daerah sekitar situ memang sering sekali mengalami pemadaman listrik… Sejauh itu pula kami tidak punya keberanian sama sekali untuk menghentikan dan istirahat, padahal pantat sudah terasa panas berada di atas jok sepeda motor, rasa kantukpun otomatis tidak akan bisa dirasakan tertutup oleh rasa khawatir ( kuatir mogok, kempes ban ataupun accident ) dan sedikit keputusasaan, lubang-lubang di jalan tidak kami pedulikan lagi ( pokoknya hajar teruuuusss ) yang terpikir adalah tarik gas semaksimal mungkin dan tiba di kota terdekat!

40 km sebelum kota Tempino akhirnya kami menemukan stasiun pompa bensin yang cukup besar, truk-truk besar banyak terparkir di sini…rasa lega menyelimuti, jaket dan semua perlengkapan dilepas, rokok dihisap dalam-dalam walaupun di sebelah kami ada tulisan besar “DILARANG MEROKOK”… kami putuskan untuk bermalam di sini…

Mendapat informasi dari salah satu kernet truk, ternyata jalur yang baru saja kami lewati adalah daerah berbahaya, gak cuma bajing loncat (istilah buat perampok), tapi kadang-kadang hewan liar juga berkeliaran disana… itulah sebabnya banyak sopir truk beristirahat disini dan melanjutkan perjalanan esok harinya…

 

TEMPINO

Pagi hari (09/03) kami lanjutkan perjalanan masuk kota Tempino dan mampir di bengkel terdekat untuk memeriksa kondisi salah satu kendaraan yang udah mulai gak enak…

Sekitar jam 15.00 wib kami tiba di Muara Tebo 1.021 km dari Depok dan mampir ke rmh bro Sadrawi Detic#039 yang akan bergabung dengan kami…

 

Setelah semuanya mandi dan ganti oli mesin, pukul 18.00 wib perjalanan dilanjutkan dengan tujuan Bukittinggi Sumatera Barat sebagai checkpoint II..

Tidak ada hambatan yang berarti sepanjang perjalanan ini…Sempat ketika kami memasuki daerah Solok, ketika itu hari sudah menjelang malam, sebuah sepeda motor jenis RX-King yang ditumpangi 2 orang tanpa helm menggangu konvoi kami, setelah mengacak-acak barisan mereka dalam waktu yang lumayan lama membuntuti barisan tepat di belakang kendaraan bro Poncho D#132 yang waktu itu ditugasi sebagai sweeper belakang… namun tidak lama kemudian mereka menghilang, entah masuk ke perkampungan, mampir ke warung, atau nyebur ke jurang.. gak jelas lah… rupanya mereka menunggu kesempatan, atau setidaknya barisan terputus baru melakukan aksinya…”Kamprett, dua orang tadi bikin gue ketakutan setengah mati!!”, umpat bro Poncho D#132 kesal. “Kalo sampe putus dari barisan gak tau deh nasib gue kaya gimana!?!?” tambahnya lega...

BUKIT TINGGI

Tengah malam kami tiba di Bukittinggi, sebenarnya di kota ini kami sudah ditunggu oleh kawan-kawan dari BTC ( Bukittinggi Tiger Club ), tapi karena kami tidak ingin merepotkan mereka, berniat istirahat kami arahkan stang motor kami ke rumah keluarga bro Andi D#151 di daerah Payakumbuh…

Pagi harinya (10/03) baru kami kembali ke Bukittinggi untuk bertemu dengan kawan-kawan BTC. Sekretariat BTC merangkap sebuah bengkel spare part dan accessories khusus sepeda motor dan vespa, letaknya tidak jauh dari “Jam Gadang” kebanggan warga Sum-Bar, mungkin 100 atau 200 meter dr sana lah…So, mumpung di bengkel, kesempatan deh buat kami melakukan Pre-Ride check sebelum melanjutkan perjalanan. Beberapa suku cadang kudu di ganti, seperti fitting lampu dan bohlamnya, bearing roda, seal shock depan, hingga tambah angin ban depan-belakang..baut-baut juga dikencingin..ups, dikencengin maksudnya…

Jam 13.00 wib dengan kawalan personil dari BTC kami diajak Rolling Tiger sejenak di kota Bukittinggi dan diantar ke perbatasan kota…

Tujuan selanjutnya adalah Balige, Sumatera Utara sebagai checkpoint III melintasi daerah Bonjol – Panti – Kotanopan – Padang Sidempuan – dan Tarutung…

Sejenak kami menyempatkan diri ber foto-foto ria di daerah Bonjol..suhu udara di sini sangat panas hingga kami harus buka jaket dan seluruh perlengkapan touring. “Et dah, gerah bangat yak di sini?” keluh bro Asep D#089 dengan logat khas betawi. “Gue udah buka jaket masih panas bae” lanjutnya sambil bergaya di depan kamera dengan latar belakang Tugu Titik Nol Khatulistiwa!

 

Perjalanan kali ini juga tidak kalah menegangkan…

Memasuki wilayah Kanopan kami kembali diguyur hujan, kali ini rintik-rintik, tapi sepertinya baru saja terjadi badai sebelum kami melewati daerah ini, karena banyak pohon tumbang terlihat di sekitar sini…

Sejauh + 100 km kami kembali dihadapkan dengan jalanan rusak dan daerah liar yang jarang penghuninya, mungkin karena sudah mulai terbiasa kami melaluinya dengan ketenangan, tapi tetap di hati kami yang cemas berharap cepat sampai di kota terdekat, sementara kecepatan kami di jalan yang kurang bagus yang kanan-kirinya jurang dan hutan belantara tidak bisa lebih dari 60 km/jam...

Sekitar 2,5 jam perjalan tanpa henti, sampailah kami di sebuah rumah makan persinggahan para sopir bus dan truk di daerah Mandailing Natal (Madina) Sumut. Disini kami putuskan makan dan beristirahat menunggu pagi karena masih membayangkan jalan di depan kami situasinya sama dengan yang baru saja kami lewati…

Rabu (11/03) waktu sudah menunjukan pukul 06.00 wib … Nggak kaya di Depok, di sini jam segitu masih gelap gulita, kami lajutkan perjalanan, kabut tipis menyelimuti daerah sekitar Padang Sidempuan sambil menikmati pemandangan indah pagi hari dan melambaikan tangan kepada anak-anak yang berangkat ke sekolah kami berkendara pelan, lalu mampir di warung tradisional untuk sarapan pagi…

Disini kami sempat mendiskusikan jalur yang akan dilewati, ada 2 pilihan yang akan kami lalui : pertama, melewati Sipirok yang menurut sumber di sini jaraknya lebih dekat ke Tarutung tapi jalannya rusak parah! dan pilihan kedua melewati Sibolga yang jelas jaraknya lebih jauh karena berputar dan rugi waktu sekitar 2 jam.

Akhirnya kami putuskan untuk memilih Sipirok sebagai tujuan yang akan kami lewati…

Bener juga! Jalur antara Sipirok sampai Tarutung sepanjang kurang lebih 50 km rusak berat! Kami melewati jalan menurun tajam belum di aspal dan berbatu-batu, mungkin lebih tepat dikatakan jurang! Sebuah bangkai bus yang baru saja terbalik dengan penumpangnya masih terlihat menontoni kendaraan yang baru saja mengangkut mereka, mejadi peristiwa yang bikin kami sempat berdebar-debar untuk melewati jalanan itu...sementara di depan sana sudah menunggu jalan menanjak tajam yang kondisinya nggak jauh beda!

Dengan keberanian dan ketenangan, kami coba tantangan ini, sementara orang-orang disekitar berteriak mengingatkan, “Awas, hati-hati!”…dan kami berhasil melewati rintangan ini…Beruntung jalanan tadi kering, coba kalo basah atau hujan? Nyerah deh, pasti licin banget…”Bisa blangsak” kata bro Asep D#089…

BALIGE 

Tepat pukul 15.00 wib kami sampai di kota Balige, kota yang ramah, penduduk yang masih tradisional, dan pasar yang unik; 5 buah atap besar khas Tapanuli menaungi los-los pedangang di pasar Balige. Kami di sambut oleh abang dari kawan kami di Detic bro Newin D#136 , lalu di ajak ke dalam pasar untuk menemui mamaknya (yang berjualan di pasar) yang telah menyediakan hidangan makan siang dan susu kerbau khas Balige…

 

Sejenak rasa tegang dan lelah kami hilang begitu saja ketika bertemu orang-orang dan keluarga di sini, sungguh orang-orang yang ramah dan baik hati, tampaknya mereka juga sangat senang dengan kedatangan kami…sampai ketika kami harus melanjutkan perjalanan, hampir semua orang di pasar keluar ingin menyaksikan penampilan kami, bak sebuah group band terkenal dari Jakarta yang mau konser..sempet bikin salah tingkah juga sih, hehehe…Rupanya jarang sekali mereka melihat konvoi dan suara deru motor tiger yang cukup menyita perhatian, apalagi sebagian dari kami mengenakan rompi kuning mirip polisi…

2 jam dari Balige kami berhenti di tepi sebuah danau di Parapat untuk minum kopi dan sekedar mendokumentasikan pemandangan indah yang belum tentu dapat kami nikmati sekali seumur hidup…”Danau Toba yang Menawan”

 

Ada satu peristiwa yang juga sangat mengesankan di sini, kami melakukan Belah duren tepat di tepi Danau Toba. “Gue belum pernah ngerasain yang kaya gini sebelumnya”, ungkap bro Sadrawi D#039. “Nikmat”, tambah bro arya D#090. “Cakep..cakep” kata H. Reza D#074. “Montok”, tegas H. Yudi D#116. “Gak ada obatnye”, celetuk bro Poncho D#132. “Sampe lemes nih”, keluh bro Aris D#110. “Wah, bisa betah nih di sini”, ujar bro Asep D#089 senang.

Memang, buah durian di sini kecil, tapi kalo dimakan bijinya kecil, dagingnya tebal, dan rasanya manis mukan main cocok dinikmati bareng kopi medan…

Melanjutkan perjalanan menuju checkpoint IV yaitu kota Medan, melalui Pematang Siantar – Tebing Tinggi – dan Lubuk Pakam, pukul 22.00 wib setelah dijemput di perbatasan oleh bro Kiki dari HTCS ( Honda Tiger Club Serdang Bedagai ) kami diajak ke sekretariat HTCS di kota Serdang Bedagai (Sergai) menikmati jamuan makan malam di sini… Tidak memakan waktu lama kami istirahat di sini, sempat pula kami menggoda cewe-cewe berbahasa melayu dan berkenalan dengan salah satunya sebagai selingan untuk menghibur diri dan mengusir rasa bosan yang sudah mulai menghantui perjalanan kami…

MEDAN

Pukul 00.30 wib sampailah kami di kota medan, penjemputan dan pengawalan melibatkan setidaknya 10 anggota HTCM ( Honda Tiger Club Medan ) termasuk ketua umumnya, dan 2 orang anggota Detic bro Deden D#004 dan bro Rendy D#158 yang kebetulan berdinas di kota ini. Kembali kami disuguhi makan malam di café tempat ngopinya kawan-kawan HTCM di kota Medan…

Ada 2 pilihan tempat bagi kami untuk beristirahat di sini, sebagian besar dari kami akhirnya beristirahat di rumah kontrakannya bro Rendy D#158, sementara H. Reza D#074 dan bro Andi D#151 memilih untuk tidur di kontrakan bro Deden D#004

Bro Deden D#004 adalah anggota Detic yang juga akan bergabung mengikuti perjalanan Tim Andalas Overland menuju P. Weh Sabang, NAD

Kamis, (12/03) kilometer ke 2.235 dari Depok, kami diantar ke bengkel resmi anggota HTCM untuk mengganti oli mesin dan melakukan pre-Ride check kendaraan kami.

Ditambah bro Deden D#004 dan bro Nanda dari HTCM, personil kami menjadi 10 orang untuk melanjutkan perjalanan ke Titik Nol Indonesia.

Dengan di kawal oleh anggota HTCM, kami melakukan group riding tertib sampai ke perbatasan luar kota Medan. Pukul 18.00 wib kami berhenti di sebuah tugu untuk mendokumentasikan sejenak perjalanan kami. Di kilometer ke 2.358 dari kota Depok, di tugu bertuliskan “Watas Sumatera Utara – Atjeh” tepatnya daerah Langkat – Tamiang, walaupun ketegangan mulai menghantui wajah-wajah sebagian dari kami, namun semangat kami makin bertambah untuk terus melanjutkan petualangan ini..kebanggaan juga sudah mulai menyelimuti hati kami...

ACEH

Memasuki Wilayah Nangroe Aceh Darussalam, aspal jalan raya di sini sangat bagus dan bermutu tinggi. “Begini kali yak rasanya naek motor di sirkuit?” gumam bro Asep D#089.

 

Di bawah kordinasi dan petunjuk dari kawan kami yang telah menunggu di Lhokseumawe, kami melanjutkan perjalanan. Sampai akhirnya kami tiba di Idi, kota kecil wilayah Peurulak, di sini kami berniat untuk makan malam. Rasa lapar hilang seketika saat kami mendapat kabar dari Lhokseumawe, mereka menyarankan supaya kami segera melanjutkan perjalanan dan jangan terlalu lama berhenti di daerah ini, karena kabarnya wilayah ini masih sangat rawan! Sering terjadi penodongan menggunakan senjata api di sini…

2 jam perjalan dari Peurulak sekitar pukul 23.30 wib, akhirnya kami sampai di Lhokseumawe, kawan-kawan dari LTBC ( Lhokseumawe Tiger Bikers Community ) sudah menunggu kami sejak siang tadi. Kami di sambut langsung oleh Ketua Umumnya bro Yopi dan sekitar 15 orang anggota LTBC. Jamuan makan malam sudah mereka siapkan, rasa tegang yang menghinggapi kami hilang dalam sekejap, kami merasa sangat aman berada di lingkungan ini…

Pukul 02.00 dini hari (13/03) kami dilepas oleh kawan-kawan LTBC sampai keluar kota Lhokseumawe. Melihat kondisi tim yang sudah mulai lelah, kami memutuskan berhenti di stasiun pompa bensin pinggiran kota Lhokseumawe dan beristirahat di sini…Pom bensin ini menyediakan tempat khusus semacam bale-bale atau gazebo yang cukup luas bagi orang- yang ingin beristirahat dan tidur di sini, musholahnya sangat bersih sehingga orang menganggapnya sangat suci dan tidak pantas menjadi tempat untuk tidur-tiduran.

 

Sempat kami berbincang dengan seorang laki-laki setengah baya yang sedang melepas lelah di dekat kendaraannya Honda GL Pro’93 dengan aksesoris keranjang bambu sebagai side bag-nya, seorang yang sangat polos dan memancarkan kharisma bapak yang baik buat 3 anaknya yang masih kecil-kecil. Pekerjaan sehari-harinya berjualan jeruk nipis di pasar Bireun yang diambil dari kebunnya di daerah Lilabong Lhokseumawe. Memakan waktu 2,5 jam dari rumahnya menuju pasar Bireun, itu dia lakukan dua hari sekali sejak bertahun-tahun silam… Hal yang menyedihkan dari lelaki ini adalah, rasa ketakutan di perjalanan saat menjelang malam. Padahal, di daerah ini setidaknya lelaki ini sudah menguasai seluk beluk kondisi dan medan yang ia lewati setiap hari. Cukup menyedihkan dan membuat miris hati kami mendengar kisah-kisah yang diceritakan lelaki hitam ini, termasuk kehilangan beberapa sanak keluarganya saat situasi politik di sini sedang memanas.

“Saya pasti menghentikan perajalanan kalau sudah mulai gelap, soalnya saya takut”, kisahnya. Ketika ditanya penyebab ketakutannya, dia bilang “Nggak tau”, sambil memalingkan wajah dan matanya yang mulai berkaca-kaca.

Pukul 06.00 kami segera melanjutkan perjalanan ke arah Bireun, Sigli, dan Banda Aceh. Lelaki penjual jeruk nipis dan sepeda motornya sudah tidak ada di tempatnya, tampaknya ia sudah tak sabar ingin bertemu istri dan anak-anaknya yang sudah menunggu di rumah.

BIREUN

Kira-kiara 1 jam perjalanan kami tiba di kota Bireun, berniat mengisi perut dan minum kopi, kami mampir sejenak di sebuah warung yang sederhana. Pandangan orang-orang di sini sangat dingin, penuh curiga dan terkesan tidak begitu ramah saat melihat kami, seolah menyaksikan gerombolan calon musuh mereka dalam sebuah pertandingan sepak bola. Di sini kami disuguhi kopi aceh berikut cara tradisional menyeduh kopinya. Memang bukan cerita bohong, kopi di sini sangat nikmat tiada tandingannya.

Bro Hery sudah menunggu kami di pom bensin Sigli untuk menemui dan siap melayani kami, kami jelaskan bahwa kami tidak dapat mampir untuk saat ini, dan kami mohon maaf karenanya… Bro hery adalah seorang yang memiliki jiwa kuat untuk bisa mendirikan sebuah klub Tiger di kota Sigli, saat ini dia sedang mulai merintis berdirinya klub tersebut, nama klubnya jg belum ada, namun semangatnya sudah sangat besar…salut lah buat bro Hery dan Sigli Tigernya!

Setelah diantar oleh bro Hery sampai keluar dari kota Bireun kami melanjutkan perjalanan, yang melewati tikungan-tikungan tajam dan jalan yang berliku-liku didukung kualitas aspal bagus dan masih baru membuat kami semakin menikmati perjalanan ini…

BANDA ACEH

Pukul 11.00 kami tiba di kota Banda Aceh, di sini kami juga sudah di tunggu oleh kawan-kawan dari KHTC ( Koetaradja Honda Tiger Club ) dan bermaksud “numpang lewat”. 5 motor dari KHTC yang dikordinir oleh bro Dedy mengantar kami sampai ke pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh.

Jadwal keberangkatan kapal tujuan Balohan, Sabang jam 14.00, sementara waktu masih menunjukkan 11.30… Saat Sholat jum’at di aceh jalanan sepi, semua warung dan toko tutup kami langsung masuk ke dalam kapal beristirahat sambil menunggu keberangkatan kapal, karena pada saat itu pria-pria di sana tidak ada yang berani berkeliaran.

 

PULAU WEH

1 jam 30 menit kami berlayar, di kejauhan mulai tampak sebuah pulau kecil beralaskan lautan biru kehijau-hijauan hingga kami masih bisa melihat ikan-ikan kecil yang berenang di dalamnya, diatasnya, langit biru cerah mempesona…rupanya ini yang dinamakan pulau Weh..

Setelah 2 jam pelayaran kami mulai menginjakkan kaki di pulau Weh, di sambut Kak Ita dan Om kapal… Kak Ita, wanita aceh berkulit hitam tapi baik hatinya, dia dipercaya oleh dinas Pariwisata setempat untuk mengelola dan menjaga Tugu Kilometer Nol, dia juga yang melayani dan menemani biker-biker dari seluruh Indonesia yang ingin ke tugu yang fenomenal tersebut. Om kapal, lelaki keturunan Indonesia timur, dia adalah salah satu nakhoda kapal di pelabuhan Balohan Sabang, membimbing kami selama di Sabang sampai kemudahan memesan tiket penyeberangan pelabuhan Balohan…

Serasa tidak percaya bahwa kami pernah ada di sini, pulau yang jadi idaman semua orang dari seluruh pelosok Nusantara yang ingin meninggalkan jejaknya sebagai bukti bahwa dia pernah ada di sini, wilayah terluar bagian barat NKRI…

Tadinya kami berniat istirahat dulu dirumah kak Ita, besok pagi baru langsung menuju ke Tugu kilometer Nol..

Belum jauh kami meninggalkan Balohan, sebuah mobil mewah ber-plat nomor BL 1 M menghadang rombongan kami. Tadinya kami tidak mengerti apa maksud penghadangan ini… Kak ita menjelaskan bahwa mobil di depan itu adalah Walikota Sabang.

                                              

Tiga orang berpakaian safari turun dari mobil tersebut, salah satu di antaranya adalah seorang lelaki gagah bernama Munawar Liza Zainal yang ternyata adalah Walikota Sabang sendiri. Sepertinya mereka telah menunggu kedatangan kapal kami di pelabuhan sejak tadi…

Karena keterbatasan waktu, Bpk. Walikota meminta kami langsung menuju ke tugu Km Nol untuk segera memulai misi dan acara di sana…

Jarak yang harus kami tempuh untuk mencapai ke sana sejauh + 40 km atau 45 menit perjalanan menggunakan motor.

2.983 kilometer dari kota Depok, tepat pukul 17.35, kami berhasil mencapai di Tugu Kilometer Nol Indonesia.

Rasa lelah tidak lagi terasa setelah bro Asep D#089, sebagai Ketua Umum Depok Tiger Club saat itu memberi sambutan mengenai maksud dan tujuan kami berada di sini, Walikota memberikan komentar dan dukungannya terhadap misi kami. Di akhiri applause dari semua orang yang hadir di sini…

Bersambung…

D#132

 

 

May 2018
S M T W T F S
1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31
Go to top